Menu

Jurnal


   


Google Cendikia Click here

Ebsco Click here

NCBI Click here

EBM Toronto Click here

PEDOMAN PROGRAM BANTUAN DANA UNTUK KEGIATAN KEMAHASISWAAN TAHUN 2012


A.      PENDAHULUAN
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 12 ayat (1) b menyatakan bahwa setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Untuk itu, mahasiswa yang merupakan peserta didik sebagai generasi penerus perjuangan bangsa perlu dibekali dengan kemampuan yang memadai agar aset bangsa yang sangat potensial tersebut mampu bersaing dalam era global. Para mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai bidang ilmu yang ditekuni di kampus, tetapi juga mengusai bidang lain yang dapat menunjang keberhasilan mereka di masa depan. Untuk mendukung harapan tersebut serta dalam rangka menyiapkan mahasiswa yang lebih berkualitas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan memprogramkan bantuan dana untuk kegiatan kemahasiswaan.

B.      DASAR
  1. Undang-Undang  Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 tahun 2010 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

C.      PENGERTIAN
  1. Organisasi kemahasiswaan intraperguruan tinggi adalah lembaga kemahasiswaan yang didirikan dan diselenggarakan oleh satu perguruan tinggi yang disetujui oleh pimpinan perguruan tinggi.
  2. Organisasi kemahasiswaan antarperguruan tinggi adalah lembaga kemahasiswaan yang didirikan dan diselenggarakan oleh lebih dari satu perguruan tinggi yang disetujui oleh pimpinan perguruan tinggi masing-masing dan disahkan oleh perguruan tinggi domisili Sekretariat Jenderal.
  3. Kegiatan kemahasiswaan yang dapat memperoleh bantuan adalah semua jenis kegiatan kemahasiswaan (ko/ekstra kurikuler) yang bertaraf regional (wilayah), nasional atau internasional.
  4. Bantuan yang dimaksud adalah tambahan dana yang diberikan untuk aktivitas yang diselenggarakan oleh mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan yang bertaraf regional, nasional atau internasional
  5. Bantuan yang diberikan kepada perseorangan hanya untuk kegiatan yang bertaraf internasional yang dilaksanakan di dalam atau di luar negeri.

D.      TUJUAN
Memberikan dukungan kepada para mahasiswa (perseorangan maupun kelompok) atau organisasi kemahasiswaan antarperguruan tinggi untuk meningkatkan penalaran, menyalurkan bakat, minat dan kemampuannya dalam bidang tertentu yang dapat menambah wawasan keilmuan, keprofesian, dan pembentukan karakter.

E.       PERSYARATAN
Persyaratan untuk memperoleh bantuan dana sebagai berikut:
  1. Kegiatan kemahasiswaan yang dilaksanakan oleh mahasiswa (perseorangan maupun kelompok) atau organisasi kemahasiswaan intra dan antarperguruan tinggi.
  2. Kegiatan kemahasiswaan dilaksanakan oleh mahasiswa program Sarjana (S1) dan atau program Diploma.
  3. Permohonan bantuan dana diajukan dengan menyampaikan proposal (sistematika terlampir), serta harus mendapat persetujuan (lembar persetujuan terlampir) dari Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang Kemahasiswaan (Wakil Rektor/Ketua/Direktur Bidang Kemahasiswaan).
  4. Kegiatan kemahasiswaan bertaraf regional/wilayah yang dapat memperoleh bantuan dana, paling sedikit melibatkan (panitia dan peserta) mahasiswa dari perguruan tinggi yang berasal dari sekurang-kurangnya 5 (lima) perguruan tinggi dari 2 (dua) provinsi di Indonesia.
  5. Kegiatan kemahasiswaan bertaraf nasional yang dapat memperoleh bantuan dana, paling sedikit melibatkan (panitia dan peserta) mahasiswa dari sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) perguruan tinggi yang berasal dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) provinsi di Indonesia.
  6. Kegiatan kemahasiswaan bertaraf internasional yang dapat memperoleh bantuan dana:
1) Apabila Indonesia sebagai tuan rumah, paling sedikit diikuti oleh mahasiswa peserta yang berasal dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) negara asing.
2) Apabila mahasiswa mengikuti kegiatan internasional di luar negeri, jumlah mahasiswa yang akan dikirim ke luar negeri disesuaikan dengan jenis kegiatan, dan kegiatan tersebut sekurang-kurangnya diikuti oleh mahasiswa dari 3 (tiga) negara di luar penyelenggara.
3)  Disertai data dan informasi yang jelas tentang kegiatan yang akan diikuti dan profil/prestasi mahasiswa yang dikirim.
  1. Perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  2. Kegiatan diselenggarakan pada bulan Maret s.d. Desember.

Catatan:
Ketentuan tentang jumlah perguruan tinggi dan atau provinsi yang terlibat disesuaikan dengan kondisi geografis.

F.  BANTUAN DANA
Besaran bantuan dana yang diberikan adalah sebagai berikut:
  1. Sebanyak-banyaknya Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) untuk kegiatan kemahasiswaan bertaraf regional.
  2. Sebanyak-banyaknya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk kegiatan kemahasiswaan bertaraf nasional.
  3. Sebanyak-banyaknya Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) untuk kegiatan kemahasiswaan bertaraf internasional.
  4. Sebanyak-banyaknya Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) untuk kegiatan kemahasiswaan bertaraf nasional yang melembaga dan rutin diselenggarakan.

Besaran bantuan dana, ditentukan berdasarkan pengelompokan kegiatan nasional atau internasional dan penilaian kelayakan usulan sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan dan harus ada dana dari sumber lain di luar bantuan dari Ditjen Dikti.

G. MEKANISME
  1. Proposal yang telah disetujui dan Pengantar oleh Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang Kemahasiswaan (PR/WR/Puket/Pudir) dikirimkan ke Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Proposal harus sudah diterima oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi paling lambat 45 (empat puluh lima) hari sebelum tanggal pelaksanaan kegiatan.
  3. Kegiatan kemahasiswaan yang disetujui untuk dibantu akan diberitahukan secara tertulis melalui pos dan atau faks, sekaligus memberitahukan kepada perguruan tinggi dan pelaksana untuk melengkapi persyaratan administrasi keuangan.
  4. Setelah persyaratan administrasi keuangan diterima oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, maka dana yang disetujui akan ditransfer ke rekening perguruan tinggi pengusul, bukan rekening pribadi.
  5. Dana bantuan yang jumlahnya lebih besar dari Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) akan disalurkan melalui kontrak.
  6. Bantuan dana untuk kegiatan kemahasiswaan dikenakan pajak sebesar 1,5% yang akan dipotong pada waktu pengiriman dana ke perguruan tinggi pengusul.

H.    PELAPORAN
1. Laporan disampaikan paling lambat dalam waktu 1 (satu) bulan setelah kegiatan dilaksanakan. Pelaksana mengirimkan 2 (dua) eksemplar laporan menggunakan format terlampir, dan dialamatkan ke:

Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Kompleks Kemdikbud Gedung D Lantai 7
Jalan Jenderal Sudirman Pintu I Senayan Jakarta 10270 Softcopy dikirimkan melalui e-mail: belmawa@dikti.go.id.
2. Perguruan tinggi dan atau organisasi kemahasiswaan yang tidak menyampaikan laporan tidak akan diberikan bantuan pada kesempatan/tahun berikutnya.

info lebih lanjut
http://www.dikti.go.id/?page_id=451&lang=id

TENTANG CITRA PERAWAT DI MEDIA MASSA

MAKALAH SYARAT
LATIHAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJERIAL
 MAHASISWA (LKMM) NASIONAL VI
IKATAN LEMBAGA MAHASISWA ILMU KEPERAWATAN INDONESIA

SEMARANG, : 2-6 Oktober 2012

Disusun oleh :
Nama          : PUJI HANDAYANI EKO PUTRI
NIM            : 04.11.3015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA GLOBAL YOGYAKARTA
2012



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya pada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tema “citra perawat di media massa”ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga serta pengikutnya hingga akhir zaman. Amin.
Makalah  ini penulis buat dengan tujuan untuk memenuhi persyaratan awal untuk mengikuti LKMM yang akan diadakan di UNDIP pada hari dan tanggal selasa,2 oktober 2012.. Pembuatan makalah ini pun bertujuan agar kita bisa mengikuti LKMM dan mengerti tentang pandangan citra perawat di dalam media massa dan bagaimana cara menanganinya serta apa penyebabnya sehingga menyebabkan citra perawat dimedia masaa berimbas tidak baik .
Terimakasih penulis ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam kelancaran pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Makalah hasil  penulis bukanlah makalah yang sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangatlah penulis harapkan untuk menambah kesempurnaan makalah penulis
Yogyakarta, 8 Agustus 2012

                                                                                                                             Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

2.4  Latar Belakang

sekarang banyak sekali citra perawat menjadi perbincangan yang sangat menarik sekali. Apa lagi jika isu tentang citra perawat dibicarakan dikalanga para pasien, pada umumnya pasien menginginkan dirawat oleh perawat yang diidamkan dan berpenampilan menarik serta mampu memenuhi kebutuhannya.
Pengakuan terhadap profisi perawat masih banyak diragukan baik oleh masyarakat atau oleh profisi lain.
Citra perawat saat ini dimata masyarakat Indonesia saat ini belum sesuai dengan harapan profisi keperawatan. Sehingga mereka memandang perawat sebagai profesi yang membantu dokter dalam memenuhi segala kebutuhan klien. Keadaan ini diperkuat secara historis , dimana perawat memiliki pendidikan dan kemampuan analisis sangat rendah sehingga para dokter menganggap sebagai pembantu mereka.
Keadaan ini mencerminkan belum profesionalnya tenaga perawat dan citra perawat belum sesuai harapan profesi.kurang peka perawat untuk membiasakan diri dengan kaidah profesional sehingga membuat citra perawat menjadi jelek dan itu sangat merugikan perawat dalam pandangan profesi lain .
Perawat harus dapat mengantisipasi keadaan tersebut, agar perawat mempunyai nilai yang patut diperhitungkan keadaannya.profesi keperawatan merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan,tetapi keberadaannya terlupakan dan terabaikan, karena perawat kurang mampu membentuk citra positif dimasyarakat. (kompac cyber  media, 2004). Kondisi ini sangatlah disayangkan bila tidak segera direspon oleh perawat.

2.5  Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan perawat dan media masa itu?
2. Bagaimana pandangan pasien terhadap citra perawat di media massa?
3.  Kenapa citra perawat di media massa menjadi perbincangan yang sangat heboh?
4. Adakah dampak yang terjadi terhadap citra perawat di media massa?

2.6  Tujuan Masalah
1.    Agar kita semua mengerti pada yang dimaksud dengan perawat dan media masaa itu sendiri
2.    Menambah wawasan tentang bagaimana  citra perawat itu sendiri didalam media massa



BAB II
PEMBAHASAN

2.1      Makna Perawat dan Media Masa
Media massa adalah institusi yang berperan sebagai agent of change, yaiyu sebagai in stitusi pelopor perubahan, ini adalah paradigma utama media massa, dalam menjalankan paradigmanya media massa sanghat berperan. Bugin (2007: 85-86).
Perawat yaitu seseorang yang memberikan perawatan dan kenyamanan, serta mengontrol pasien saat dia dirataw dirumah sakit.perawat merupakan tim kesehatan yang paling lama kontak dengan klien.

2.2      Pandanga Pasien Terhadap Citra Perawat Di Media Massa
Pada umunya pasien menginginkan dirawat oleh parawat yang diidamkan dan berpenampilan menarik serta mampu memenuhi kebutuhannya.
Orang yang berpenampilan menarik dinilai memiliki atribut positif. Seperti kepribadian menarik , mampu bersosialisasi dengan baik, profesional dan dapat membina hubungaang harmonis. Individu yang berpenampilan menarik juga lebih dihargai dan mendapat perlakuan istimewqa dari lingkungannya (Hatjied dan Sprecher 1980, dalam plattiasina, 1998). 
Citra perawat saat ini dimata masyarakat Indonesia saat ini belum sesuai dengan harapan profisi keperawatan. Sehingga mereka memandang perawat sebagai profesi yang membantu dokter dalam memenuhi segala kebutuhan klien. Keadaan ini diperkuat secara historis , dimana perawat memiliki pendidikan dan kemampuan analisis sangat rendah sehingga para dokter menganggap sebagai pembantu mereka.
Apa lagi dalam citra perawat dalam media massa??? Citra perawat dalam media massa dipandang pasien atau masyarakat cukup rendah,jadi profesi keperawatan diharapkan mampu menciptakan dan menkondisikan situasi dan lingkungan yang kondusif, agar menimbulkan kepuasan bagi pasien , sehingga informasi yang disebarluaskan oleh pasien kepada masyarakat berupa berita yang positif atau citra yang positif. Secara naluri kepuasan dan ketidak puasan akan menjadi berita dimasyarakat yang akan menyebabkan citra perawat dimedia m,assa menjadi buruk. Karena pasien yang sudah mencoba pelayanan keperawatan akan secara tidak langsung akan menjadi media promosi bagi perawat, merekan akan bercerita ke teman, relasi, atau keberadaan pelayanan yang diberikan perawat.
Bila pelayanan sesuai harapan pasien maka dapat meningkatkan citra , tetapi apabila tidak sesuai harapan akan mengakibatkan citra perawat turun sampai tidak diminati calon pasien lagi. Dan hal yang lebih exstrimnya lagi perawat akan ditinggalkan pasien. (Anonim,2007,http://www.ksh.co.id).
Misalnya banyak media massa menanyangkan issu – issu bahwa perawat itu judes apalagi jika menangani kelas bawah itu selalu memakai kekerasan. Tetapi setelah saya bertanya pada salah satu pasien tentang pendapatnya. “kalau saya senang dirawat disini karena antara perawat dan pasien saling tolong-menolong, saling kasih mengkasihi gitu mbak! Bisanya untuk menghadapi pasien kalang bawah itu ada kekerasan,kalau dulu banyak kesan perawat lengus(sewot/ judes) sekarang sudah tidak , itu yang saya rasakan mungkin perawat sudah tahu tempatnya ”. dari perubahan yang diberikan itu bisa sedikit merubah citra perawat di masyarakat menjadi lebih baik lagi, meskipun hal-hal seperti itu masih ada di rumah sakit.
2.3      Citra Perawat Di Media Massa
Karena citra perawat itu sangat lah berpengaruh sekali didalam memberikan pelayanan kesehatan, sebab perawat merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan yang seharusnya citra perawat di dalam maupun diluar media massa harus bagus atau baik, Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan Bio-Psiko-Sosio-Spiritual yang komfrehensif, serta ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia berupa bantuan diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.
Sehingga sudah seharusnya seorang perawat itu diacungi jempol dalam kinerjanya, akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya yaitu dapat dilihat dari problematika yang terjadi sekarang ini adalah perawat selalu diiskripsikan sebagai sosok yang centil, sexy, penggoda, bahkan dicerminkan dengan pose yang tidak layak dilakukan oleh seorang perawat. Hal ini yang akan menjadikan citra perawat sebagai profesi yang harus diteladani dan di acuin jempol menjadi hancur.
 Hal ini merupakan sesuatu yang harus dibenahi mulai dari sekarang ini, tidak lupa pula peran serta dari mahasiswa keperawatan sendiri (Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia) dan tentunya harus didukung penuh oleh organisasi profesi yang menaungi keperawatan di Indonesia yaitu PPNI. Itu bisa dijadikan awal dari pengembalian citra perawat menjadi lebih baik lagi.
Media masa merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan dalam proses pencitraan perawat, akan tetapi yang selama ini terlihat yaitu kondisi yang sangat tidak etis untuk ditayangkan oleh media bahkan sangat bertentangan dengan kode etik dalam keperawatan itu sendiri.
 Media masa merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan dalam proses pencitraan perawat, akan tetapi yang selama ini terlihat yaitu kondisi yang sangat tidak etis untuk ditayangkan oleh media bahkan sangat bertentangan dengan kode etik dalam keperawatan itu sendiri.
2.4      Dampak dari Pencitraan Perawat Di Media Massa
Dampaknya sangat besar sekali, jika pencitraan perawat dimedia massa itu baik tentu keberadaan perawat akan lebih dihargai dengan semestinya, tapi jika pencitraan perawat dimedia massa itu buruk atau jelek , maka perawat pun akan terkena imbasnya yaitu keberadaan perawat akan di pandang sebelah mata oleh masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya.
 Segala tindakan apapun yang diberikan oleh perawat itu bisa mempengaruhi citra perawat menjadi baik , dan juga bisa menjadi buruk.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
          Jadi apapun yang dikerjakan atau dilakukan oleh perawat itu yang akan membuat citra perawat itu sendiri menjadi baik atau malah sebaliknya menjadi buruk.
Dan tidak semua perawat itu seperti apa yang telah ditayangkan di media massa, mungkin tidak menutup kemungkinan ada yang seberti itu tapi itu tidak semuanya. Jadi janganlah menilai orang itu melihat penampilan luar saja karna itu bisa menipu kita .

3.2  Saran
Apapun yang berkaitan dengan perawat janganlah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, karena itu bisa merugikan perawat lainnya. Upayakan hal yang bisa dilakukan untuk perbaikan adalah pada pelayanan keperawatan yaitu membiasakan diri dengan budaya profesional, menerapkan sikap caring yang merupakan inti keperawatan. Pendidikan keperawatan  perlu mengembangkan kurikulum dengan memperhatikan unsur (hard skill dan soft skill).

DAFTAR PUSTAKA

PERAN MAHASISWA KEPERAWATAN DALAM TANGGAP BENCANA

MAKALAH SYARAT
LATIHAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJERIAL
 MAHASISWA (LKMM) NASIONAL VI
IKATAN LEMBAGA MAHASISWA ILMU KEPERAWATAN INDONESIA

SEMARANG, : 2-6 Oktober 2012
Disusun oleh :
Nama          : PUJI HANDAYANI EKO PUTRI
NIM            : 04.11.3015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA GLOBAL YOGYAKARTA
2012



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya pada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tema”Peran Mahasiswa Keperawatan dalam Tanggap Bencana”ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga serta pengikutnya hingga akhir zaman. Amin.
Makalah  ini penulis buat dengan tujuan untuk memenuhi persyaratan awal untuk mengikuti LKMM yang akan diadakan di UNDIP pada Selasa,2 Oktober 2012.. Pembuatan makalah ini pun bertujuan agar kita bisa mengikuti LKMM dan mengerti tentang apa saja yang bisa dilakukan oleh mahasiswa khususnya keperawatan dalam tanggap bencana itu, dan mampu memahami arti penting dalam tanggap bencana itu.
Terimakasih penulis ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam kelancaran pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Makalah hasil  penulis bukanlah makalah yang sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangatlah penulis harapkan untuk menambah kesempurnaan makalah penulis.
Yogyakarta, 8 Agustus 2012


                                                                                                                             Penulis
 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Ya .. betul peristiwa jebolnya Situ Gintung memang peristiwa bencana yang cukup hangat di ulas bahkan banyak posting di wordpress Indonesia yang membahas dan mengulas peristiwa ini sehingga semakin ramai dan semakin menaikan trafic kunjungan pembaca di blog yang mengulas peristiwa situ gintung tersebut.
Dari perspektif perblogan saja ternyata sudah bisa dilihat bahwa ternyata masyarakat kita baik di dunia nyata maupun di dunia maya masih sungguh reaktif terhadap fenomena bencana yang terjadi.Reaktif yang dimaksud di sini adalah ternyata yang terekam kuat dalam memori kita adalah secepatnya kita berespon terhadap peristiwa bencana. Alias fase tanggap darurat.
Kalau dalam dunia nyata begitu ada bencana langsung serentak masyarakat berespon untuk segera ingin memberikan pertolongan secepat mungkin, bahkan mungkin ingin segera menunjukkan kepedulian dan pertolongan secepat mungkin.Kalau dalam dunia maya reaksi kepedulian ini sangat cepat terlihat begitu terjadi bencana di situ Gintung langsung sang bloger berlomba-lomba untuk posting tulisan tentang bencana di situ gintung,.. dari positngan yang sifatnya ilmiah sampai dengan postingan yang bersifat mistik/klenik mencoba untuk merebut perhatian pembaca dan manunjukkan betapa bloger-bloger kita peduli terhadap bencanadi situ Gintung.
Pertanyaannya adalah apakah salah kalau kita bersikap langsung bereaksi terhadap kondisi bencana yang terjadi dan dengan filosofi unit reaksi cepat kita semua bereaksi terhadap peristiwa dan segera memberikan pertolongan baik berupa tenaga, duit, makanan, pakaian, selimut, obat-obatan sampai sumbangan yang bersifat pemikiran misalnya posting di blog kaitannya dengan bencana yang terjadi ? Tentu tidak.. karena pertolongan yang cepat sangat diperlukan.

1.2    Rumusan Masalah
1.Bagaimana peran mahasiswa keperawatan dalam tanggap bencana?
2.Hal apa saja yang dapat dilakukan para mahasiswa keperawatan dalam tanggap bencana?
3.Adakah dampak positif dari kegiatan tanggap bencana tersebut?
4.Bagaimana tanggapan dari mahasiswa keperawatan sendiri dalam tanggap bencana?

1.3    Tujuan Masalah
1.      Agar pembaca mampu memahami dan mengerti peran mahasiswa keperawatan dalam tanggap bencana
2.      Agar pembaca tahu dampak positif dari kegiatan tanggap bencana tersebut
                     

BAB II
                 PEMBAHASAN

2.1               Peran Mahasiswa dalam Tanggap Bencana
Definisi Bencana adalah peristiwa atau kejadian pada suatu yang mengakibatkan ekologi kerugian,kehidupan  manusia,  serta  memburuknya  kesehatan  dan  pelayanan  kesehatan  yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar (Depkes. RI., 2001).
Bencana  merupakan  setiap  kejadian  yang  menyebabkan  kerusakan,  
gangguan  ekologis,hilangnya  nyawa  manusia,  atau  memburuknya derajat kesehatan  atau  pelayanan  kesehatan  pada,skala  tertentu  yang  memerlukan respons dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena(WHO2001).
Maahasiswa harus lebih tanggap lagi dalam masalah tanggap bencana. Sebelum para mahasiswa berperan dalam tanggap bencana , mahasiswa harus berperan terlebih dahulu untuk menghadapi bencana.
Bencana Alam terjadi di mana-mana. Gunung meletus, banjir, tsunami, angin puting beliung, adalah sederet kecil bencana alam yang pernah “mampir” di Indonesia. Siapa yang salah? Tidak ada, karena semuanya merupakan bencana yang memang tidak dapat diprediksi. Hal ini juga tidak terlepas dari kondisi geografis Indonesia.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia mencatat sekurang-kurangnya ada 28 wilayah di Indonesia yang rawan gempa dan tsunami. Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga dilalui jalur Cincin Api Pasifik (The Pacific Ring of Fire) yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia dan membentang di antara subduksi dan pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Belum lagi ditambah dengan potensi gunung api yang dimilikinya. Indonesia memiliki gunung berapi berjumlah kurang lebih 240 buah dan hampir 70 di antaranya merupakan gunung api yang masih aktif.
Menurut Mohtar Mas’oud, mahasiswa merupakan makhluk istimewa. Mereka ada pada lapisan umur yang memungkinkan menjadi energik dan cocok untuk menjadi pelopor perbaikan keadaan. Secara definitif, mahasiswa berasal dari dua suku kata yaitu kata maha dan siswa. Kata maha mempunyai arti paling tinggi, sedangkan kata siswa memiliki makna seorang yang terpelajar baik secara individu maupun kelompok. Jadi, mahasiswa adalah seorang terpelajar yang mempunyai kedudukan tertinggi diantara pelajar-pelajar lainnya dalam tingkatan akademik. Dengan adanya predikat tersebut, diharapkan nantinya mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik dan mampu mengisi lapisan pemimpin. Secara fungsi mahasiswa mempunyai dua peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama, sebagai manager dan kedua sebagai pencetus gagasan. Peran tersebut memerlukan satu syarat utama, yaitu belajar bermasyarakat. Belajar menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan secara bersama pada dasarnya adalah belajar berpolitik. Dengan demikian, tujuan mahasiswa adalah memahami fenomena yang terjadi dalam suatu tatanan masyarakat baik dari segi politik, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.
Lantas apa yang bisa dilakukan mahasiswa untuk menanggapi merebaknya bencana alam yang cenderung sulit diprediksi secara pasti akhir-akhir ini? Sejauh ini kalangan mahasiswa khususnya dan dunia kampus pada umumnya terlihat lamban merespon jika dibanding menanggapi isu-isu lain seperti isu skandal politik, korupsi pejabat negara, dan lain sebagainya yang langsung ditanggapi secara serius. Sementara untuk isu bencana seakan-akan bukan isu yang penting untuk ditanggapi.
Mahasiswa jangan sampai mewakili sikap pemerintah yang terlihat begitu lamban dalam menanggulangi korban bencana.
Peran mahasiswa dalam menanggulangi bencana alam sejauh ini masih kurang. Lihat saja bagaimana mahasiswa-mahasiswa yang ikut aktif menjadi relawan untuk mencari korban Tsunami di Aceh enam tahun yang lalu. Lihat juga bagaimana para mahasiswa dengan cepat ikut merekonstruksi ketika terjadi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Dan mengkin yang belum hilang dari ingatan kita adalah ketika mereka ikut mengevakusi korban bencana meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya peran untuk ikut andil dalam menanggulangi bencana alam bisa lebih besar lagi. Jika dilihat, apa yang sudah dilakukan kampus di atas sebenarnya hanyalah penanganan pascabencana. Peran yang saat ini belum dimaksimalkan adalah penanganan prabencana.
Padahal jika dirunut ke belakang, antisipasi prabencana ini juga tidak kalah penting untuk meminimalisasi risiko buruk yang diakibatkan oleh bencana. Bencana memang bisa terjadi kapan dan di mana saja. Untuk itulah, diperlukan suatu upaya membangun masyarakat yang sadar akan bencana alam. Upaya ini akan sangat penting jika dilakukan oleh mahasiswa dengan memainkan perannya dalam hidup bermasyarakat.
Di sinilah mahasiswa harus memainkan perannya dalam bermasyarakat dengan berada di garda terdepan terkait penanggulangan bencana alam di Indonesia. Jika saat ini peran tersebut masih sangat terbatas pada tindakan pascabencana, sepertinya sudah saatnya mulai dilakukan upaya prabencana. Dalam hal ini kampus dapat ikut memfasilitasi kegiatan sosialisasi tentang perlunya sikap siaga bencana bagi masyarakat luas.

2.2              Hal yang Dapat Dilakukan Mahasiswa dalam Tanggap Bencana
Upayaupaya yang dilakukan antara lain:
1)      penyusunan kebijakan, peraturan perundangan, pedoman dan standar;
2)      pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah kesehatan
3)      pembuatan brosur/leaflet/poster
4)      analisis risiko bencana
5)      pembentukan tim penanggulangan bencana
6)      pelatihan dasar kebencanaan
7)   membangun sistem penanggulangan krisis kesehatan berbasis masyarakat.
Adapun peran yang dapat dilakukan perawat dalam tanggap bencana ,yaitu: Peran dalam Pencegahan Primer
Ada 2 hal yang dapat dilakukan perawat dalam masa pra bencana ini, antara lain:
a.       Perawat mengikuti pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan dalampenanggulangan ancaman bencana untuk tiap fasenya (preimpact, impact, postimpact).Para perawat ini, khususnya perawat komunitas mendapat pelatihan tentang berbagai tindakan dalam penanggulan ancaman dan dampak bencana. Misalnya mengenali instruksi ancaman bahaya; mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan saat fase emergency (makanan,air, obat-obatan, pakaian dan selimut, serta tenda) ; dan mengikuti pelatihan penanganan pertama korban bencana.
b.      Perawat ikut terlibat bersama berbagai dinas pemerintahan, organisasi lingkungan,palang merah nasional maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan menghadapi ancaman bencana kepada masyarakat.
2.3 Dampak Positif dari Kegiatan Tanggap Bencana
         Dampak posif tentu ada karna itu merupakan kegiatan kemanusiaan, dan sesama manusia kita harus saling tolong menolong, disamping meringankan beban orang yang terkena musibah atau bencana kita juga dapat belajar berinteraksi dengam masyarakat, dan berkolaborasi dengan sesama tenaga kesehatan yang lainnya.
        Sehingga kita bisa menambah wawasan dan mengalaman, karena pengalaman merupakan jendela ilmu yang tak ternilai harganya. Jadi dampak positif dari kegiatan tanggap bencana itu ada dan sangat banyak sekali.

2.3                     Tanggapan Para Mahasiswa Sendiri Tentang Tanggap Bencana
Ini adalah tanggapan mahasiswa tentang tanggap bencana “saya mendukung sekali jika semua mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan mempunyai sifat peduli tentang nasib seseorang yang terkena musibah apalagi jika para kita mahasiswa mau mengulurkan bantuan berupa tenaga, uang, maupun fikiran kita untuk menolong para orang yang terkena musibah. Bila kita mau terjun langsung dalam kegiatan tanggap bencana kita akan dapat menolong jutaan hingga ribuan orang yang terkena musibah”.

Selain itu adapun unsur-unsur  terjadinya bencana  terdiri dari:
1.      Ancaman
Ancaman merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana. Adapun jenis ancaman yaitu:
 a)      Geologi:  gempa bumi, tsunami, longsor
b)      Hidro meteorology : banjir, banjir bandang, topan dan kekeringan
c)      Biologi : epidemic, penyakit tanaman dan hewan
d)     Tekhnologi : kecelakaan transportasi, industri
e)      Lingkungan : kebakaran, kebakaran hutan, pengundulan huta
  f)    Social : konflik dan terorisme
2. Dasar Hukum penanggulangan bencana
1.      UU No.24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana
2.      KEPRES No.3 tahun 2001 tentang badan koordinasi nasional penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi
3.      KEPMENDAGRI No.13 tahun 2003 tentang pedoman penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi di daerah
4.      Keputusan sekretaris BAKORNAS PBP No. 2 tahun 2001 tentang pedoman umum penanggulangan bencana dan penanggulangan pengungsi
5.      Undangundang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063)
6.      Keputusan Menteri Kesehatan nomor 145/MENKES/SK/I/2007 tentang Pedoman Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan. 

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
             Bencana  merupakan  setiap  kejadian  yang  menyebabkan  kerusakan,
gangguan  ekologis,hilangnya  nyawa  manusia,  atau  memburuknya
derajat kesehatan  atau  pelayanan  kesehatan  pada,skala  tertentu  yang  memerlukan respons dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena. Jadi kita sebagai generasi penerus bangsa dan sebagai mahasiswa kita harus selalu menumbuhkan sifat saling tolong – menolong sesama orang, dan jika ada bencana kita harus lebih tanggap bencana , dalam tanggap bencana kita hanya perlu tekat dan niat karena sifatnya suka relawan.

3.2 SARAN
Jangan lah kita mengharapkan imbalan dari apa yang sudah kita berikan kepada orang lain,baik dalam bentuk materi, fikiran dan tenaga. Dan segala sesuatu yang kita kerjakan haruslah didasari dengan niat yang tulus dan ikhlas.


DAFRAT PUSTAKA


DAMPAK KEBERADAAN ILMIKI TERHADAP INSTITUSI KEPERAWATAN


MAKALAH SYARAT
LATIHAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJERIAL
 MAHASISWA (LKMM) NASIONAL VI
IKATAN LEMBAGA MAHASISWA ILMU KEPERAWATAN INDONESIA

SEMARANG, : 2-6 Oktober 2012

Disusun oleh :
Nama          : PUJI HANDAYANI EKO PUTRI
NIM            : 04.11.3015

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA GLOBAL YOGYAKARTA
2012



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya pada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tema “Dampak Keberadaan ILMIKI Terhadap Institusi Keperawatan Di Indonesia” ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga serta pengikutnya hingga akhir zaman. Amin.
Makalah  ini penulis buat dengan tujuan untuk memenuhi persyaratan awal untuk mengikuti LKMM yang akan diadakan di UNDIP pada Selasa, 2 Oktober 2012. Pembuatan makalah ini pun bertujuan agar kita bisa mengikuti LKMM dan mengerti tentang ILMIKI, dan manfaat serta peran ILMIKI terhadap institusi di Indonesia.
Terimakasih penulis ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam kelancaran pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Makalah hasil  penulis bukanlah makalah yang sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangatlah penulis harapkan untuk menambah kesempurnaan makalah penulis.

Yogyakarta, 8 Agustus 2012


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Di era sekarang ini kita semua harus menuntut kemajuan jaman dan juga di segala bidang khususnya dalam kesehatan. Keperawatan mempunyai landasan untuk memberikan perawatan kepada pasiennya secara bio,psyho,socio,spiritualdan cultural.semua itu juga harus dibutuhkan kemampuan soft skill, dimana itu tidak semua bisa didapat pada bangku perkuliahan.
Soft skill adalah aspek penting untuk menilai kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Untuk menjadi seorang organisator yang mampu harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang unggul.
Di satu sisi terbentuknya organisasi dari perkumpulan sejumlah mahasiswa keperawatan S1 mempunyai peran positif ikut serta dalam mengembangkan soft skill dan menyebarkan informasi yang sangat diperlukan oleh para mahasiswa keperawatan pada khususnya.
Perkumpulan mahasiswa keperawatan itu yang diberi nama ILMIKI atau Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia ini juga sebagai penampung inspirasi kita semua yang akan disalurkan ke lembaga yang lebih tinggi lagi.

1.2    Rumusan Masalah
 1. Apa itu ILMIKI?
2.  Apa dampak yang diberikan oleh ILMIKI terhadap institusi keperawatan di Indonesia?
3. Bagaimana tanggapan para mahasiswa terhadap ILMIKI?

1.3     Tujuan Masalah
1.      Pembaca mengerti apa yang dimaksud ILMIKI itu sendiri
2.      Dapat mengetahui dampak  dan pengaruh ILMIKI terhadap institusi keperawatan di Indonesia

 BAB II
PEMBAHASAN
2.1    ILMIKI
Sejarah singkat tentang ILMIKI Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) merupakan organisasi mahasiswa yang beranggotakan lembaga kemahasiswaan ilmu keperawatan di Indonesia.
Terbentuknya ILMIKI berawal dari Tahun 1999 merupakan awal munculnya pemikiran untuk membentuk wadah koordinatif berskala nasional untuk mahasiswa keperawatan. Namun saat itu masih sebatas wacana, belum ada langkah konkrit untuk mewujudkannya.
Maret tahun 2000 diadakan pertemuan mahasiswa kesehatan di Yogyakarta. Delegasi-delegasi mahasiswa berkumpul dan bertukar wacana mengenai perlunya wadah koordinasi mahasiwa keperawatan Indonesia. Pada pertemuan ini didapatkan kesepakatan untuk mengadakan pertemuan di Yogyakarta dengan agenda membentuk jaringan mahasiswa keperawatan Indonesia. Pertemuan ini kemudian disepakati sebagai Pra Kongres I dengan nama Jaringan Mahasiswa Ilmu Keperawatan  Indonesia (JMIKI). Pra Kongres I dihadiri oleh Pranowo Adi (FIK UI), Jathu D.W. (FIK UI), Rudi S.N. Saputra (PSIK UNPAD), Haris Sofyana (PSIK UGM), Tanto (PSIK UNIBRAW), Lalu Matuwali (PSIK UNAIR), Yafeti Nazara (PSIK USU), Khaidir (PSIK Univ Andalas), dan Mashdar Jhon (PSIK UNHAS).
Tanggal 3 Juni 2000 diadakan Pra Kongres II di Yogyakarta dengan agenda membahas AD/ART  dan GBHO serta mempersiapkan Kongres Pertama Mahasiswa Keperawatan Indonesia 2000 (KOMPI 2000). Pada pertemuan ini nama organisasi berubah menjadi Ikatan Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (IMKI). Rencana pelaksanaan Kongres II (KOMPI 2000) di Jakarta tanggal 21-23 Juli 2003, sekaligus deklarasi IMKI. Akan tetapi, Kongres II tidak jadi dilaksanakan. Akhirnya disepakati ada Pra Kongres III di Unair Surabaya.
Pra Kongres III dilaksanakan di Unair Surabaya tanggal 23-24 September 2000 dengan agenda membahas AD/ART dan GBHO IMKI serta persiapan KOMPI 2000. Terdapat beberapa usulan nama organisasi yaitu OMKI, IMKI, JMIKI, dan ILMIKI. Kemudian diperoleh kesepakatan dan pendeklarasian organisasi yang bernama “IKATAN LEMBAGA MAHASISWA ILMU KEPERAWATAN INDONESIA” disingkat ILMIKI (Surabaya, 24 September 2000 pukul 16.00 WIB).
2.2    Dampak yang Diberikan oleh ILMIKI
Dampaknya sangatlah luar biasa, yaitu berawal dari kita mahasiswa keperawatan yang belum tahu informasi yang sangat penting menjadi tahu setelah bergabung di dalam ILMIKI ini, didalam ILMIKI ini juga kita mahasiswa keperawatan bisa menyalurkan aspirasi atau keluhan-keluhan  kita semua terhadap pemerintah, misalnya dalam hal RUU Keperawatan di ILMIKI ini kita bisa menyatukan suara kita untuk pengesahan RUU keperawatan, agar kehidupan para perawat lebih sejahtera, tidak lagi dijadikan babu atau pembantu dokter.
Disisi lain dampak yang diberikan ILMIKI yaitu mendapat kan informasi  atau isu-isu yang selalu baru, dan informasi itu bisa kita berikan pada teman-teman kita di institusi masing-masing agar mahasiswa dapat mengkritisi isu-isu terbaru.
Dampak yang lainnya yaitu bisa berkenalan dan bertukar fikiran antara institusi satu dengan institusi  yang lainnya.
Apabila institusi bergabung dalam ILMIKI  bisa juga membantu untuk menambah nilai dalam proses akriditasi kampus. Dalam ILMIKI kita bisa mendapatkan solusi-solusi terbaik apabila ada masalah pada HIMA kita, dan ILMIKI pun siap membantu jika HIMA kita membutuhkan bantuan , jadi sangatlah berpengaruh sekali ILMIKI bagi institusi,
2.3    Tanggapan Mahasiswa Terhadap ILMIKI
Salah satu mahasiswa mengemukakan pendapatnya tentang ILMIKI , “ILMIKI itu menurut saya  sangatlah luar biasa, mereka patut diacunin jempol karena dalam memperjuangkan RUU Keperawatan mereka tak pernah pantang menyerah, meskipun beberapa kali belum berhasil tapi mereka tetep bersemangat.
ILMIKI sangat berpengaruh sekali terhadap institusi karna institusi yang sebelumnya belum tahu tentang isu-isu terbaru menjadi tahu tentang isu-isu tersebut, dan juga bisa untuk proses penilaian terakriditasi kampus atau institusi.
ILMIKI juga bisa membantu kita dalam memberikan solusi tentang  masalah yang sedang kita hadapi. Intinya ILMIKI sangatlah berperan besar.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa sangatlah berpengaruh  keberadaan ILMIKI terhadap institusi , banyak sekali hal-hal atau manfaatnya yang dapat diperoleh dari ILMIKI.
Yaitu institusi satu yang lainnya bisa saling kenal dan juga bisa saling bertukar pengalaman,fikiran dan juga institusi bisa memperoleh issu-issu terbaru supaya mahasiswa bisa mengkritisi issu-issu tersebut. Salah satunya dampak yang diperoleh yaitu bisa menambah nilai + (positif) terhadap institusi yang sudah mulai bergabung. Kita juga bisa menyatukan suara kita untuk RUU Keperawatan .

3.2  SARAN
Mari kita mahasiswa keperawata S1 satukan suara kita didalam lembaga ILMIKI agar kita bisa berjuang untuk pengesahan RUU Keperawatan.Turut ikut  berpartisipasilah dalam  semua kegiatan yang diadakan oleh ILMIKI.

DAFTAR PUSTAKA