Menu

NURSING CAMP WILAYAH IV ILMIKI 2018


Nursing camp wilayah IV ilmiki merupakan suatu agenda wajib ilmiki yang diadakan setiap 2 tahun sekali. Dengan tujuan untuk mencetak kader-kader  pemimpin yang inspirator, inovatif, Kompetitif,  inisiator, beretika baik dan bertanggung jawab ditingkat wilayah maupun nasional. Selain itu, guna menghasilkan kader-kader penerus yang sangat dibutuhkan oleh ILMIKI ditingkat Wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkompeten, berbudi luhur terhadap program pembangunan pada umumnya dan pembangunan bidang kesehatan pada khususnya maka perlu sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing. 

*Delegasi HIMIKA STIKes Surya Global
            Kegiatan nursing camp pada tahun ini dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Keperawatan STIKES Kusuma Husada Surakarta yang bertemakan “ Internalisasi Visi Ilmiki Dalam Membentuk Generasi Yang Mandiri , Inovatif, Dan Kompetitif “. Kegiatan nursing camp wilayah IV ilmiki yang  berlangsung kurang lebih  3 hari 4 malam yang memang pada saat itu semua peserta dituntut untuk harus selalu  disiplin mengikuti agenda demi agenda yang telah ditentukan. Dari mulai pagi peserta bangun tidur sampai kembali malam untuk peserta istirahat. Pada saat itu memang saat-saat yang cukup melelahkan, tapi juga sangat berkesan. Karena Lelah kami terbayarkan dengan banyaknya ilmu bermanfaat yang bisa kami peroleh, tidak hanya ilmu sja yang kami dapatkan dari kegiatan nursing camp ini tapi juga pengalaman, teman baru, dan keseruan-keseruan lainnya yang tidak akan bisa diperoleh di luar organisasi.
            Kegiatan ini dimulai pada hari Kamis 25 Oktober 2018, diawali dengan penjemputan peserta untuk menuju ke kampus Stikes Kusuma Husada Surakarta sesampai di kampus peserta melakukan registrasi ulang dan beristirahat di kampus. Kemudian dilanjutkan dengan bermalam di kampus Stikes Kusuma Husada sampai dengan paginya semua peserta dikondisikan untuk berangkat ke tempat nursing camp yaitu di Resort Tawangmangu. Kurang lebih 2 jam perjalanan menuju lokasi camping. Begitu  sampai di lokasi, peserta kembali dikondisikan untuk mengikuti upacara pembukaaan nursing camp wilayah IV ilmiki. Setelah upacara pembukaan nursing camp, dilanutkan dengan penyampaian materi pertama yaitu pengenalan perdirektorat jendral oleh pengurus harian wilayah dengan sistem kelompok. Kemudian dilanutkan dengan istirahat dan penyampaian materi selanutnya.
            Di hari kedua peserta mulai dibangunkan pukul 4.30 untuk persiapan sholat, ishoma dan senam pagi Bersama. Kemudian dilanjutkan dengan sarapan Bersama-sama peserta dan phw, mencuci alat makan bersama. Setelah makan bersama semua peserta segera di kondisikan kembali untuk mengikuti kegiatan yaitu penyampaian materi satu ke materi yang lain yang kemudian di lanjutkan dengan istirahat peserta, dan persiapan untuk kegiatan selanjutnya.
            Pada hari ke tiga hari Sabtu 27 Oktober 2018 peserta dibangungkan pukul 04.30 WIB
untuk shalat subuh dan senam pagi, Setelah itu acara dilanjutkan penyampaian materi ke
empat sampai ke tujuh. Disela-sela materi akan diberikan selingan Game dari panitia.
Setelah selesai menyampaikan materi ke tujuh,
kemudian di lanjutkan dengan acara ramah tamah antar mahasiswa, sharing antar institusi dan berujung pada acara malam puncak nursing camp 2018 dengan acara api unggun bersama. Malam puncak ini sangat berkesan bagi peserta karena, pada malam puncak ini lah semua peserta bisa mengeluarkan bakat bakat mereka seperti bernyanyi, berpuisi, dance bahkan bermain peran layaknya di drama – drama. Dan di acara api unggun ini menjadi malam yang tak terlupakan untuk kami peserta nursing camp ilmiki wilayah IV 2018. Setelah malam puncak api unggun selesai peserta kembali di mobilisasi oleh panitia untuk segera beristirahat dan kemudian menyiapkan stamina untuk kembali mengikuti kegiatan di pagi harinya.
            Hari ke empat nursing camp ilmiki wilayah IV, peserta segera di mobilisasi untuk mengikuti senam pagi, yang dilanjutkan dengan sarapan pagi bersama- sama. Banyak canda tawa dan kelucuan kelucuan yang menjadikan suasana pagi di lereng gunung lawu ini semakin hangat dan akrab. Setelah acara makan bersama selesai peserta melanjutkan kegiatan yaitu mengikuti outbond bersama, diamana outbond ini menambah keakraban dan kekompakan setiap tim satu dengan tim yang lainnya. Kegiatan outbond inipun selain menciptakan keseruan keseruan tapi juga banyak diambil manfaatnya, karena setiap permainan yang di pilihkan panitia untuk setiap kelompok peserta terdapat makna dan dampak positif yang bisa diambil. Kegiatan outbond ini melatih peserta untuk kompak, sabar dan berpikir kritis, yang tentunya itu akan  sangat berkesan dan bermanfaat bagi peserta.
            Setelah mengikuti outbond, peserta di mobilisasi kembali untuk segera bersih bersih dan membereskan semua barang bawaan masing – masing, karena setelah itu akan diadakan upacara penutupan agenda nursing camp ilmiki wilayah IV sekaligus pemberian kenang – kenagan kepada setiap institusi yang bergabung di ILMIKI wilayah IV dan pemberian hadiah kepada kelompok terbaik, peserta terbaik dan peserta teraktif. Setelah bersih bersih selesai semua peserta berkumpul bersama di halaman untuk mengikuti upacara penutupan. Kemudian panitia pun mulai membongkar tenda tenda yang kemarin di gunakan untuk istirahat pesrta.
            Upacara penutupan agenda nursing camp ilmiki wilayah IV berlangsung dengan hikmat dan lancar, meski disertai dengan sedikit rasa kesedihan karena akan  berpisah dengan teman teman ilmiki, dan rasa haru, tapi upacara tetap berlangsung dengan hikmat. Setelah upcara selesai peserta masih berkumpul untuk kemudian menuggu di antarkan ke terminal atau stasiun oleh panitia. Disinilah agenda nursing camp benar benar selesai setelah semua peserta sudah meninggalkan lereng gunung lawu yang memberikan banyak kesan dan makna yang kemudian kembali ke masing masing institusi.
            Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, karena pada dasarnya tujuan seseorang bertemu adalah untuk berpisah. Itulah yang kami alami sebagai peserta nursing camp ilmiki, banyak sekali yang kita dapatkan dari kegiatan ini.  Seperti Sahabat sahabat baru, ilmu baru, pengalaman baru, dan tentunya kenangan kenangan yang tak terlupakan. Nursing camp ini sangat berkesan bagi kami, dari awal kedatangan hingga akhir acara selesai banyak hal positif dan hal baru yang kedepannaya bisa membantu kita untuk meraih mimpi mimpi. Intinya NURSING CAMP ILMIKI WILAYAH IV 2018 WOW!!!!.


*Seluruh Delegasi Mahasiswa Ilmu Keperawatan Wilayah 4

LKMM NASIONAL IX ILMIKI 2018


       LKMM  Nasional yang dilaksanakan oleh HIMKAJAYA atau Himpunan Mahasiswa Keperawatan Brawijaya merupakan salah satu bentuk kegiatan yang diharapkan mampu membentuk calon kader yang memiliki jiwa  kepemimpinan, solidaritas dan juga bertanggung jawab yang nantinya dapat membuat kinerja ILMIKI kedepannya lebih baik. Tujuan dilaksakannya LKMM Nasional  yaitu Membentuk karakter mahasiswa yang berjiwa kepemimpinan, mahasiswa mampu memahami konsep dan sistem pengembangan organisasi secara terarah, Mahasiswa mampu menganalisa dan melakukan penyelesaian konflik dalam organisasi, mahasiswa mampu mengimplementasikan strategi komunikasi yang efektif, mahasiswa mampu mengembangkan manajemen perawat mandiri, mahasiswa mampu menerapkan strategi manajemen forum dan wacana public, mahasiswa memiliki jiwa nasionalisme.   LKMM Nasional IX ILMIKI dilaksanakan di kota Malang di Universitas Brawijaya dengan tema “Menuju generasi ILMIKI yang berintelektual muda, solid, unggul, visioner dan berjiwa kepemimpinan”


* Delegasi STIKes Surya Global (Jovida dan Andi Sukma)
          Kegiatan LKMM Nasional IX ILMIKI yang berlangsung kurang lebih selama 4 hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan, membahagiakan dan masih berbagai macam ekspresi yang dirasakan, serta menguras pikiran peserta untuk mendapatkan ilmu yang semoga bermanfaat untuk para delegasi ILMIKI.
          Opening Ceremony  kegiatan ini dilakukan pada tanggal 21 Februari 2019 pukul 13.00 WIB yang dibuka oleh pembawa acara. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PPNI. Acara selanjutnya yaitu sambutan-sambutan oleh ketua pelaksana, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Keperawatan Brawijaya, dilanjutkan sambutan dari Presiden BEM FKUB. Kemudian perwakilan ILMIKI, Sambutan Perwakilan Jurusan dilanjutkan dengan pembukaan acara secara simbolis dengan pemukulan gong. Dilanjut pembacaan rangkaian kegiatan ST ILMIKI 2018, perkenalan delegasi dari masing-masing institusi yang hadir, brainstorming perkembangan ILMIKI, kemudian penutupan kemudian perjalanan menuju BLK Wonojati Malang. Setelah sampai tujuan langsung melaksanakan ibadah sholat maghrib dan isya kemudian dilanjutkan kegiatan dengan pretest terlebih dahulu, lalu memasuki materi yang pertama yaitu mengenai kepemimpinan dilanjut dengan diskusi pada kelompok kecil. Dan selesai istirahat.  
          Di hari kedua pada tanggal 22 Februari dilanjutkan dengan materi mengenai manajemen dan pengembangan organisasi, materi selanjutnya resolusi konflik yang dilanjutkan dengan diskusi kecil, materi selanjutnya yaitu manajemen wacana public kemudian materi mengenai komunikasi dan materi yang terakhir yaitu manajemen forum. Pada kesempatan kali ini    mahasiswa diperkenankan untuk memberikan argument inovatifnya ketika membahaas kasus untuk memberikan solusi terhadap kasus tersebut saat diskusi kecil setelah materi diberikan.
          Pada hari ketiga tanggal 23 Februari melanjutkan kegiatan dengan outbond sampai siang hari kemudian dilanjutkan dengan materi wawasan kebangsaan dan diskusi kecil kemudian penutupan acara dan pembagian plakat. Istirhat.
          Kemudian di hari terakhir tepatnya tanggal 24 Februari dilanjutkan dengan citytour ke Selecta Batu Malang. Dan  setelah selesai semua rangkaian wisata panitia mengantar peserta ke stasiun, terminal dan bandara. Itulah rangkaian kegiatan yang dilakukan selama berada di Malang. Dengan semua agenda yang sudah dilalui Bersama harapannya silahturahmi mahasiswa tidak terputus antar Institusi.

*Seluruh Delegasi Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia






Public Relation


Jovida Afranisa



Apakah Mahasiswa Akan Lebih Baik dengan atau Tanpa Exit Exam ?



Uji kompetensi perawat yang dijadikan sebagai exit exam (syarat kelulusan perguruan tinggi) secara sepihak oleh direktorat jendral pendidikan tinggi (Ditjen Dikti) kementrian kebudayaan (Kemendikbud) melalui surat edaran dengan nomor 704/E.E3/DT/2013 dan 370/E.E3/DT/2014 akhirnya dikaji kembali. Kemudiaan pada tanggal 18 Juni 2014 keluar surat terbaru dengan nomor 529/E.E3/DT/2014 tentang Status Uji Kompetensi bagi Mahasiswa Program Studi DIII Kebidanan, DIII Keperawatan dan Ners.
Surat ini keluar merupakan bentuk kesadaran bahwa legalitas uji kompetensi perawat ini tidak kuat, bahkan penyelenggaraannya inkonstitusi dan melanggar hukum. Meskipun pada surat edaran nomor 370/E.E3/DT/2014 menerangkan landasan hukumnya yaitu pasal 44 undang-undang (UU) no. 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Namun pada pasal tersebut tidak ada amanah penyelenggaraannya sebagai exit exam bahkan peraturan pemerintah yang diturunkan dari pasal tersebut pun tidak ada.
Pada surat edaran nomor 529/E.E3/DT/2014 berisi “setelah melihat hasil Uji Kompetensi Mahasiswa Program Studi DIII Kebidanan, Keperawatan dan Ners, diperlukan perbaikan-perbaikan pada sistem pendidikan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka uji kompetensi dilakukan untuk melakukan  pemetaan kualitas dan pembinaan, sehingga belum digunakan untuk menentukan kelulusan”. Keluarnya surat edaran tersebut menjadi landasan bahwa uji kompetensi perawat bukan sebagai exit exam (syarat kelulusan perguruan tinggi). Surat tersebut menjadi klarifikasi dan jawaban terhadap saran dari berbagai pihak untuk menelaah kembali uji kompetensi yang diadakan saat ini.
Beberapa masalah yang terjadi beberapa bulan kebelakang terkait dengan uji kompetensi perawat terjawab semuanya. Masalah tersebut lahir dari adanya surat edaran yang menyatakan uji kompetensi sebagai exit exam. Masalah tersebut antara lain; menunggunya kelulusan mahasiswa yang sudah selesai pendidikan diploma maupun profesi bahkan tidak mendapatkan ijasah karena belum mengikuti uji kompetensi. Sehingga dengan adanya surat edaran ketiga terkait dengan uji kompetensi perawat ini, kedepannya diharapkan tidak ada lagi mahasiswa yang menunggu kelulusannya lantaran belum mengikuti uji kompetensi, apalagi sampai adanya penahanan ijasah.

Lalu untuk apa uji kompetensi perawat digunakan saat ini?
Pada surat edaran ketiga berbunyi bahwa uji kompetensi dilakukan sebagai pemetaan kualitas dan pembinaan. Ini sebenarnya menjadi hal yang keliru dan memaksakan adanya uji kompetensi yang bukan jadi wewenang Ditjen Dikti. Fungsi uji kompetensi jika mengacu pada peraturan menteri kesehatan (PMK) Nomor 46 Tahun 2013 Tentang Registrasi Tenaga Kesehatan adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi. Uji kompetensi dilakukan untuk mendapatkan sertifikat kompetensi yang kemudian sebagai syarat mendapatkan surat tanda registrasi (STR) yang dikeluarkan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI).
Jika saat ini uji kompetensi perawat digunakan hanya sebagai pemetaan kualitas dan pembinaan, apa bedanya dengan penyelenggaraan try out /uji coba yang diselenggarakan oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI). Pada hasil uji coba tersebut yang diambil dari soal yang secara substantif tidak berbeda akan menghasilkan nilai-nilai mahasiswa keperawatan yang mengikutinya.
Sebenarnya kekisruhan dan ketidakjelasan uji kompetensi perawat saat ini dapat diselesaikan dengan disahkannya Rancangan Undang-Undang Keperawatan (RUUK). Pada pasal 1 maupun secara lengkap pasal 28 RUUK menjelaskan status uji kompetensi hingga proses pelaksanaan uji kompetensi secara umum. Ini yang menunjukkan RUUK menjadi penting disahkan untuk masyarakat, pemerintah, elemen keperawatan baik itu mahasiswa keperawatan, dosen keperawatan dan perawat itu sendiri.
Lalu apakah mahasiswa akan lebih baik tanpa atau dengan Exit Exam ?
Uji kompetensi merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mengukur kesesuaian antara kemampuan dengan standar profesi, seperti yang dikemukakan oleh (Primadi,2010) bahwa uji kompetensi adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi. Uji kompetensi dilakukan agar tenaga kesehatan layak secara kognitif afektif dan psikomotor untuk melakukan praktek pelayanan kesehatan. Kelayakan melakukan praktek pelayanan kesehatan ini dinyatakan melalui Surat Tanda Registrasi (STR).
STR ini diterapkan sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, melindungi masyarakat atas tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan tenaga kesehatan (Primadi,2010). Pelaksanaan uji kompetensi seharusnya ditunjang oleh fasilitas dan tenaga pengajar yang mumpuni, seperti pada tahap proses pendidikan ditunjang dengan kualitas kurikulum yang sesuai dengan perkembangan serta standar dan tuntutan perkembangan yang ada. Kondisi tersebut akan terlihat dari kualitas lulusan yang tentunya akan mempengaruhi kualitas profesi tenaga kesehatan khususnya perawat. Uji kompetensi ini akan menguji kualitas dari lulusan yang dihasilkan, yang tentunya kualitas institusi penyelenggara pendidikan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hal kelulusan peserta didik terhadap uji kompetensi yang dilakukan.
Tujuan baik dari uji kompetensi ini tentunya haruslah kita dukung, akan tetapi tujuan baik ini haruslah ditunjang dengan pengeloaan yang baik pula supaya apa yang diharapakan dapat dicapai. Hal itulah yang perlu kita sikapi dan perhatikan karena terkadang menjadi dilema. Uji kompetensi ini telah diberlakukan mulai tahun 2013 dengan exit exam artinya uji kompetensi menjadi satu kesatuan dari penyelenggaran proses pendidikan, sebagai gambaran seorang mahasiswa akan dapat yudisium dan mendapatkan ijasah apabilah telah dinyatakan lulus uji kompetensi dengan dibuktikan melalui surat kelulusan dari panitia nasional uji kompetensi kepada institusi pendidikan untuk dikeluarkan sertifikat uji kompetensi kepada para lulusan. Sertifikat ini nantinya akan menjadi syarat dalam memperoleh STR dari Dina Kesehatan, setelah itu barulah para lulusan tersebut dinyatakan sebagai seorang perawat. Dapat kita bayangkan disini bahwa sekian tahun proses pendidikan yang dilalui ternyata hanya ditentukan oleh selembar sertifikat kelulusan uji kompetensi. Pertanyaan besar muncul, bisakah hal itu menjadi jaminan lulusan telah kompeten? Jawaban pertanyaan tersebut menjadi tidak jelas karena kita belum melihat bagaimana hasil dari uji kompetensi tersebut. Secara rasional kita akan berfikir ketika ujian berharap semua dapat lulus, tapi bagaimana dengan mahasiswa yang belum lulus uji kompetensi? Mahasiawa yang tidak lulus uji kompetensi tentunya tidak dapat mengikuti yudisium dan harus menunggu untuk uji kompetensi berikutnya. Kondisi ini bukan saja menjadi beban moril bagi mahasiswa itu sendiri karena harus menunggu untuk uiian kompetensi berikutnya tetapi juga menjadi beban moril institusi penyelenggara pendidikan. Persoalan teknis yang terjadi adalah waktu tunggu bagi mahasiswa yang lama dan selalu berubah-ubah sehingga tidak memberikan kejelasan waktu bagi mahasiswa bisa lulus serta mendapat ijasah agar mereka dapat segera mendapatkan pekerjaan.
Beberapa pengelola institusi pendidikan keperawatan baik swasta maupun negeri, pada umumnya mereka setuju dengan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas lulusan dan menyeragamkan standar institusi pendidikan yang menghasilkan lulusan, tetapi mungkin perlu ditinjau ulang terkait dengan pelaksanaan uji kompetensi sebagai exit exam karena selain waktu tunggu yang relatif lama dan waktu ujian yang selalu berubah sementara setiap institusi memiliki kalender akademik yang berbeda-beda yang tentunya hal ini dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Tuntutan sosial juga akan dialami mahasiwa yang belum lulus uji karena waktu sekolah menjadi lebih lama sehingga akan timbul pertanyaan bukan hanya dari orang tua saja tetapi juga masyarakat sekitar atau lingkungan, belum lagi kebijakan institusi yang berbeda-beda terkait dengan penambahan waktu semester yang akan berpengaruh terhadap biaya yang harus ditanggung mahasiswa.
Pelaksaan ujian kompetensi secara Computer Based Test (CBT) ini sendiri berjalan bukan tanpa kendala, menurut salah seorang pengelola institusi pendidikan kesehatan negeri yang juga sebagai koordinator regional tiga Asosiasi Pendidikan Ners Indonesia menyatakan bahwa keterbatasan CBT terutama untuk wilayah timur Indonesia serta keterbatasan soal yang tersedia di bank soal menjadi kendala utama dalam pelaksanaan uji kompetensi tersebut.
Tujuan standarisasi kualitas tenaga kesehatan secara nasional memang harus dilakukan sesuai dengan UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas, UU Nomor 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, Permendiknas Nomor 83/2013 tentang Sertifikat Kompetensi dan Permenkes Nomor 46/2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan, dasar hukum tersebut menjadi dasar timbulnya peraturan bersama antara Kemendikbud dan Kemenkes yaitu PB Uji Kompetensi No. 36/2013 dan No.1/IV/PB/2013 tentang Panduan Penyelenggaraan Uji Kompetensi Perawat, Bidan dan Ners tahun 2013. Peraturan bersama tersebut sudah mengatur tentang pelaksanaan teknis penyelenggaraan uji kompetensi yang seharusnya dijadikan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelaksaaan uji kompetensi agar kendala yang terjadi dapat diminimalisir. Komitmen yang tinggi dalam hal ini sangat dibutuhkan supaya tujuan baik untuk standarisasi kualitas dapat terwujud dengan lebih bijaksana.
Fakta menunjukan bahwa sarana dan prasarana pendidikan kesehatan di setiap institusi penyelenggara sangat beragam sehingga secara logika tentunya akan berpengaruh terhadap kulaitas lulusan yang dihasilkan sehingga terjadi ketimpangan antara satu institusi dengan institusi lain. Pemerintah sebaiknya berupaya menyelesaikan masalah secara bottom up artinya bahwa penyelesaian masalah dimulai dari institusi penyelenggara terlebih dahulu, untuk meningkatkan kualitas lulusan tenaga kesehatan pemerintah harus lebih intens melakukan monitoring, pembinaan serta evaluasi eksternal terhadap institusi penyelenggara pendidikan kesehatan agar tetap berada dalam standar yang ditentukan, tidak membiarkan berjamurnya institusi penyelenggara pendidikan kesehatan yang tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas sesuai standar karena pada akhirnya akan menimbulkan masalah serta kerugian dimana masyarakatlah yang akan menjadi korbannya.
Kami berharap pemerintah lebih bijaksana dalam membuat dan melaksanakan kebijakan terkait uji kompetensi ini, upaya yang dilakukan memang sangatlah baik tetapi diperlukan kajian lebih dalam terhadap pelakasanaan uji kompetensi dengan exit exam. Gejolak pelaksanaan uji kompetensi sudah dirasakan dan panitia pelaksana ujian dirasakan belum cukup siap melaksanakan uji kompetensi ini, sangat bijaksana apabila pemerintah secepatnya mengevalusi pelaksanaan uji kompetensi ini dari dampak yang terjadi dan secepatnya untuk ditindaklanjuti.
Ketidaksiapan bukan berarti kita harus menghentikan niat baik ini, tetapi belajar dari kekurangan dan kesalahan agar tidak terjadi lagi kekurangan dan kesalahan yang sama di masa yang akan datang.

#ApakahMahasiswaAkanLebihBaikdenganatauTanpaExit-Exam ?
#KASTRAD2018-2019
#HIMIKASSG


Apa Kabar Konsil Ku?



Digagas oleh Dewan Perawat Internasional yang terdiri dari 130 negara, tergabung dalam satu wadah yang disebut dengan ICN (International Council Of Nurse) seluruh anggota ICN sepakat setiap tanggal 12 mei diperingati sebagai hari kelahiran Ilmu Keperawatan modern. Sesuai dengan tanggal lahir Florence Nightingle, seorang wanita asal benua eropa, dianggap sebagai pelopor ilmu Keperawatan modern.
Walaupun Indonesia terdaftar bergabung dengan Dewan Konsil Keperawatan Internasional sejak tahun 2003, namun Indonesia belum punya Badan Konsil Keperawatan. Namun kelucuan itu mulai kelihatan serius, eksekutif dan legislatif telah melahirkan produk Undang- Undang pada tahun 2014. Produk Undang-Undang yang dimaksud merupakan titik awal masa depan Keperawatan Indonesia. Tentang pembentukan Konsil Keperawatan pun ada diatur dalam UU No.38 Tahun 2014 yang dimaksud. Hanya tinggal menunggu Peraturan Presiden dalam pelaksanaannya.

Apa itu Konsil Keperawatan ?
Konsil Keperawatan adalah suatu badan otonom, mandiri, non struktural yang bersifat independen. Menurut Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 pada pasal 52, yakni "Keanggotaan Konsil Keperawatan terdiri atas unsur Pemerintah, Organisasi Profesi Keperawatan, Kolegium Keperawatan, asosiasi Institusi Pendidikan Keperawatan, asosiasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan tokoh masyarakat. Jumlah anggota Konsil Keperawatan paling banyak 9 (sembilan) orang."
Tujuan dibentuk Konsil Keperawatan ini adalah, "Untuk meningkatkan mutu Praktik Keperawatan dan untuk memberikan pelindungan serta kepastian hukum kepada Perawat dan masyarakat. (BAB IX, Pasal 47, Ayat 1, UU No. 38 Tahun 2014). Sedangkan fungsi Konsil Keperawatan sebagai pengaturan, penetapan, dan pembinaan Perawat dalam menjalankan Praktik Keperawatan.
Mengapa konsil keperawatan belum terbentuk ?
Karena belum keluarnya Perpres (Peraturan Presiden) yang mengatur tentang pembentukan Konsil Keperawatan ini. Masih menurut UU No.38 Tahun 2014 , pada pasal 52 ayat 3, berbunyi, "Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi, pengangkatan, pemberhentian, dan keanggotaan Konsil Keperawatan diatur dengan Peraturan Presiden."
Dan, paling mengkhawatirkan, Mengutip dari UU No.38 Tahun 2014,  Pasal 63, tertulis bahwa, "Konsil Keperawatan dibentuk paling lama 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan." Artinya, Konsil Keperawatan harus segera dibentuk, sebab batas waktunya Oktober 2016. Konsil Keperawatan adalah amanat Undang-Undang yang tidak boleh diabaikan oleh penyelenggara negara, demi terciptanya Praktik  Keperawatan yang bermutu, dan perlindungan serta kepastian hukum kepada Perawat dan masyarakat.(AntonWijaya).
Tapi sampai saat ini belum ada. Harusnya lima tahun setelah UU Nomor 38 Tahun 2014, konsil keperawatan itu sudah terbentuk. Itulah yang sangat kita harapkan dari PPNI.

Solusi
Dalam Undang-Undang Keperawatan Nomor 38 tahun 2014 pasal  17 disebutkan bahwa untuk melindungi masyarakat penerima jasa pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh perawat, menteri dan KonsilKeperawatan bertugas melakukan pembinaan dan pengawasan mutu perawat sesuai dengan kewenangan masing-masing.
Perawat harus melakukan registrasi sebagai bukti kompetensi dalam menjalankan pelayanan keperawatan dan memberi perlindungan secara hukum bagi perawat dalam menjalankan kewajiban profesinya. Dalam pasal 18 ayat (5) poin f. UU RI No.38/2014 dikatakan bahwa dalam perpanjangan STR harus memenuhi memenuhi kecukupan dalam kegiatan pelayanan, pendidikan, pelatihan, dan/atau kegiatan ilmiah lainnya.
Sedangkan dalam Undang-Undang R.I Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dikatakan bahwa salah satu kewajiban pemerintah daerah adalah memberikan pendidikan bekelanjutan kepada pegawai profesionalnya minimal 10 jam selama setahun agar upgrade keilmuan staf bisa terus ditingkatkan.
Namun, setelah hampir tiga tahun sejak UU Keperawatan disahkan, belum terlihat dampak yang signifikan terhadap perkembangan profesi keperawatan. Hal ini berkaitan erat dengan belum  terbentuknya Konsil Keperawatan yang seharusnya telah dibentuk setelah dua tahun UUKkeperawatan disahkan. Konsil Keperawatan adalah suatu badan otonom, mandiri, dan independen akan menjamin kredensial perawat indonesia menjadi lebih capable, acceptable, and credible.
Sudah selayaknya pemerintah segera memberikan otonomi kepada profesi perawat dalam menentukan arah perkembangan profesinya layaknya perlakuan pemerintah terhadap KonsilKedokteran, yang bertujuan  meningkatkan kualitas Praktik Keperawatan dan juga kualitas Pendidikan Keperawatan. Salah satu tugas beratnya adalah menata pendidikan dan praktik keperawatan agar kembali ke jalur profesionalnya yang benar serta perlindungan hukum terhadap perawat yang melakukan praktik keperawatannya serta masyarakat selaku pengguna jasa layanan keperawatan.

#ApaKabarKonsilKu?
#KASTRAD
#HIMIKASSG


Dokumentasi Kegiatan HIMIKA

Dokumentasi setiap kegiatan HIMIKA dapat dilihat atau di induh melalui link berikut ini :